Thursday, December 8, 2011

The Ending


Kisah kita berawal beberapa tahun silam...


Pikiranku mengembara mundur ke masa itu. Masa di mana semua tentang kita selalu berhasil membuatku tersenyum. Masa di mana aku bebas menunjukkan perhatianku padamu. Masa di mana kamu selalu berada dalam jarak pandangku. Masa di mana kita berdua bisa tertawa tanpa beban. Tetapi itu setahun yang lalu, sayang. Saat aku masih lugu. Saat aku belum tahu bahwa akhirnya akan jadi seperti ini. Saat kau masih ragu untuk menunjukkan aslimu. Saat kau belum jauh melanggar prinsip hidupmu itu. Saat kita masih menikmati keadaan tanpa berpikir terlalu jauh.

Lalu kita berpisah jarak. Kamu bilang, perasaan 'sayang'mu padaku hanya permainan jarak. Kemudian aku menyalahkan jarak atas perginya kamu. Ah, jarak memang lihai sekali mempermainkan perasaan. Ya, setelah semua kisah indah itu, kamu tiba-tiba menghilang. Tanpa kabar, tanpa jejak. Aku menunggu dalam diam, dalam diam pula aku belajar membencimu, membencimu dengan segala beban kenangan yang menyesakkan.

Semua kenangan itu... Ah, cukup sudah. Semakin mengingatnya, aku semakin sakit.

Kemudian tiba-tiba kamu muncul kembali. Nyata, dengan sikap manis dan semua perhatianmu. Seolah-olah aku adalah penghuni tetap relung hatimu yang tidak pernah sekalipun kau tinggalkan. Saat itu aku bertanya, ada apa gerangan? Dulu kamu menghindar, tapi mengapa tiba-tiba kamu menarikku kembali? Aku bingung, aku galau. Lalu rasa lama yang pernah singgah di hatiku pun datang lagi, cepat tanpa bisa kucegah.

Kamu terus membuat perasaanku seperti terombang-ambing di tengah lautan. Terus. Hingga hari itu.

Hari itu kamu membeberkan semuanya, di hadapanku. Akhirnya kamu berhasil mengumpulkan keberanianmu, walaupun perlu kupaksa. Aku bertanya, mengapa kamu tiba-tiba menjauh. Kamu bilang ada alasannya mengapa kita tidak bisa terus dekat, tapi kamu belum bisa cerita. Aku bilang aku ingin semuanya jelas, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Kamu bertanya apakah permintaanmu terlalu banyak jika kita berteman saja. Aku terdiam lalu menjawab, akan kucoba. Kamu bilang kamu minta maaf karena membiarkan kedekatan kita terlalu jauh. Aku bilang aku minta maaf karena sudah salah paham atas sikapmu. Kamu bilang aku boleh marah padamu. Aku bilang aku hanya kecewa.

Kamu tahu apa yang paling membuatku sedih? Sampai sekarang, aku tidak tahu (atau lebih tepatnya tidak berani mencari tahu) apakah perasaanku pernah terbalas. Dulu aku pikir kisah 'kita' akan berlanjut, terus hingga waktu yang tidak bisa dihitung dengan jari. Ternyata aku baru sadar bahwa sebenarnya 'kita' adalah semu. 'Kita' hanya sekedar bayanganku karena kamu tidak pernah memaknai 'kita' dengan sepenuh hati. 'Kita' cuma hidup dalam angan masa laluku, bukan masa lalumu. 'Kita' tidak akan pernah benar-benar menjadi KITA.

Kamu bilang kamu tahu aku marah padamu. Tetapi kenyataannya aku tidak marah, aku tidak bisa marah. Kamu bilang aku boleh membencimu. Tetapi apakah bisa aku membenci dan mencintaimu di saat yang bersamaan? Kamu bilang kamu ingin kita tetap berteman baik. Tetapi aku tidak bisa karena sekarang aku benar-benar membencimu.

Kita tidak akan bisa berteman lagi. Tidak, jika aku masih membencimu karena pernah benar-benar mecintaimu.


*renewed based on reality*

0 comments:

Post a Comment

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

 
;